Mesteri Laut yang belum terkuat dan mengesankan

Sabtu, 23 April 2011

Taman Nasional Perairan


      I.            Latar Belakang
                        Indonesia merupakan suatu negara kepulauan yang  memiliki wilayah  paling luas di dunia, secara geografis  terletak diantara 92o – 141o Bujur Timur (BT) 7o 20’  lintang utara (LU) hingga 14o  lintang selatan (LS). Luas perairan Indonesia tidak kurang dari 5,8 juta km2 dan memiliki sebanyak 17.480 pulau yang terdiri dari pulau besar dan pulau kecil dengan panjang garis lebih kurang 95.186 km, yang merupakan garis pantai tropis terpanjang di dunia setelah Kanada. Indonesia merupakan bagian dari segi tiga terumbu karang (coral traingle), wilayah pesisir dan lautan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia (megadiversity country). Tingginya keanekaragaman hayati tersebut bukan hanya disebabkan oleh letak geografis yang sangat strategis, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor seperti variasi iklim musiman, arus atau massa air laut yang mempengaruhi massa air dari dua samudera, serta keragaman tipe habitat dan ekosistem yang terdapat didalamnya.
                        Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi alam. Kawasan taman nasional dikelola oleh pemerintah dan dikelola dengan upaya pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Suatu kawasan taman nasionali kelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya. Rencana pengelolaan taman nasional sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan. Pada topic ini akan membahas tentang kawasan taman nasiaonal perairan di teluk cenderawasi yang berada di irian jaya.


Taman Nasinal Perairan Teluk Cenderawasi
A.    Kawasan Teluk Cendrawasih
                        Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan perwakilan ekosistem terumbu karang, pantai, mangrove dan hutan tropika daratan pulau di Papua/Irian Jaya.
Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan taman nasional perairan laut terluas di Indonesia, terdiri dari daratan dan pesisir pantai (0,9%), daratan pulau-pulau (3,8%), terumbu karang (5,5%), dan perairan lautan (89,8%).
Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih (TNTC), dengan luas 1.453.500 Ha, merupakan Taman Nasional Laut terluas di Indonesia. Secara geografis kawasan ini terletak antara 1° 43’- 3°22’ LS dan 134°06’ – 135°10’ BT. Secara administratif kawasan ini berada dalam wilayah dua kabupaten, yaitu Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Nabire. Luas kawasan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Teluk Wondama adalah sekitar 80 persen dari luas TNTC secara keseluruhan.





Kawasan laut Teluk Cenderawasih memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tersebar baik di darat, di pulau-pulau maupun di perairan laut sekitarnya. Kawasan inipun memiliki fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. Mengingat pentingnya kawasan ini maka, melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 58/Kpts-II/1990 tanggal 3 Februari 1990, kawasan ini dinyatakan sebagai kawasan Cagar Alam Laut. Sekitar tiga tahun kemudian, kawasan konservasi ini ditetapkan sebagai Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 472/Kpts-II/1993 tanggal 2 September 1993.            





Kawasan TNTC membentang dari rangkaian Kepulauan Auri dari arah timur Tanjung Kwatisore di sebelah selatan sampai ke utara di atas Pulau Rumberpon. Tercakup di dalamnya 500 Km garis pantai Pulau Induk Papua dengan terumbu karangnya dan daerah pesisir pantai dan terumbu karang dari ke 18 pulau yang berada di dalam zona inti, zona pelindung dan zona pemanfaatan terbatas. Ke 18 pulau itu adalah: Pulau Nuburi, Pepaya, Nutabari, Kumbur, Anggromeos, Kabuoi, Rorado, Kuwom, Matas, Rouw, Iwaru, Rumarakon, Nusambier, Maransabadi, Nukup, Paison, Numerai, dan Wairundi. 

Luas daratan dan perairan dalam kawasan TNTC dapat dirinci sebagai berikut:      
                        ► Daratan = 68.200 Ha, terdiri dari  :
                         Pesisir Pantai = 12.400 Ha (0,9%)    
                         Daratan Pulau-pulau = 55.800 Ha (3,8%)     

                        ► Perairan/laut = 1.385.300 Ha, terdiri dari 
                        Terumbu Karang = 80.000 Ha (5,5%)           
                        Laut = 1.305.300 Ha (89,8%)
A.    Tujuan Dan Fungsi :           

            Tujuan ditetapkannya TNTC adalah untuk memelihara dan melestarikan fungsi kawasan dan untuk mengawetkan keanekaragaman jenis flora dan fauna serta ekosistemnya yang terdapat di kawasan tersebut. Adapun fungsi kawasan TNTC adalah sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, untuk menunjang pemanfaatan lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, serta untuk dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.
Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam   yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan   sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan   penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang   budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Sistem zonasi   terdiri dari zona inti, zona pemanfaatan, dan zona lain   sesuai  dengan keperluan. (UU No. 5 Tahun 1990).Taman Nasional Teluk Cenderawasih dikelola dengan   sistem zonasi. Pembagian zonasi kawasan dapat   dilihat pada gambar/peta dengan uraian singkat   sebagai berikut          :          

1. Zona Inti   
            Merupakan zona perlindungan yang ketat, yang   berfungsi melindungi jenis-jenis dan daerah-daerah   dengan   nilai pelestarian tinggi, seperti habitat dan   species langka atau terancam kerusakan atau   terancam punah;   habitat peka yang lemah terhadap   gangguan; daerah-daerah yang digunakan untuk   melindungi stok perkembangbiakan dari jenis yang   boleh dimanfaatkan, dan contoh-contoh yang masih   baik/utuh dari tipe-tipe   habitat alamiah.      

2. Zona Pelindung    
            Letak zona pelindung mengelilingi zona inti. Maksudnya adalah untuk melindungi zona inti dan   merupakan penyangga dari kegiatan-kegiatan pada zona-zona lainnya sehingga tidak berdampak langsung pada zona inti.        


3. Zona Pemanfaatan Terbatas      
            Merupakan daerah pemanfaatan sumberdaya alam oleh penduduk setempat secara tradisional untuk kepentingan hidup sehari-hari maupun oleh pengunjung/pendatang tetapi dengan pengawasan dan pembatasan-pembatasan tertentu sehingga tidak merusak habitat atau mengambil jenis yang dilindungi, langka atau terancam punah.  

4. Zona Penyangga   
            Merupakan daerah di luar zona-zona tersebut di atas dan diperuntukkan untuk pengamanan dan kegiatan-  kegiatan lainnya. Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No.185/Kpts-II/1997, organisasi pengelola TNTC adalah Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih(BTNTC). Adapun struktur organisasi dan Tata Kerja Balai ini mengacu pada Keputusan Menteri Kehutanan No. 6186/Kpts-II/2002 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Balai Taman Nasional.

B.     Ekosistem  :   
            Tipe-tipe ekosistem di kawasan Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi: ekosistem hutan tropis daratan pulau, ekosistem pantai, dan ekosistem perairan laut yang terdiri dari terumbu karang, padang lamun dan dataran dangkal yang kurang dari 20 meter. Pada ekosistem pesisir pantai didapati hutan/vegetasi mangrove, antara lain: Rhizophora sp. (Bakau bakau), Sonneratia sp. (Tancang), Avicennia sp. (Api-api), Ceriops sp. (Tingi), Bruguiera sp., Xylocarpus sp., dan Heritiera sp. Kelompok vegetasi demikian ini merupakan habitat yang baik untuk pemijahan jenis, ikan dan udang serta berbagai plankton dan ikan-ikan kecil lainnya.  
            Pada tipe ekosistem perairan laut terdapat hamparan karang alami yang sangat indah dan luas yang dapat dikelompokkan dalam lima bentuk pokok hamparan, yaitu: terumbu karang yang berbentuk potongan-potongan (Patch Reef), terumbu karang pantai (Fringging Reef), terumbu karang penghalang (Barrier Reef), terumbu karang berbentuk cincin (Atol), dan terumbu karang perairan dangkal (Shallow Water Reef). Terumbu karang tersebut terdiri dari sekitar 67 genera dan sub genera, mencakup 145 jenis karang Scleractinia yang terdapat sampai pada kedalaman 35 meter.           
            Prosentase penutupan karang hidup bervariasi antara 30,40 % sampai 65,64 %. Variasi ini dipengaruhi antara lain oleh tingkat intervensi masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam. Ekosistem terumbu karang umumnya terbagi menjadi dua zona, yaitu zona rataan terumbu (reef flat) dan zona lereng terumbu (reef slope). Zona rataan terumbu pada sisi sekat garis pantai didominasi oleh substrat pasir dan lamun. Pada zona ini dapat dilihat beberapa jenis karang terutama dari keluarga Porites, Acropora, Poccilopora, dan Favites. Pada beberapa pulau, pada zona rataan terumbu dapat dilihat: koloni karang biru (Heliopora coerulea), karang hitam (Antiphates sp.), famili Faviidae dan Pectiniidae, serta berbagai jenis karang lunak.           

            Zona lereng terumbu di kawasan TNTC terdiri dari dua tipe, yaitu: lereng terumbu yang landai dan yang berbentuk tubir (drop-off). Pada zona lereng terumbu ini terdapat jenis-jenis karang, antara lain: Leptoseris spp., Montiphora spp., Oxyphora spp., Mycedium elephantathus dan Piristesrus. Hamparan-hamparan karang tersebut merupakan habitat, tempat berlindung dan pembiakan berbagai jenis ikan dan molusca yang hidup menempel pada terumbu karang tersebut.        
            Selain itu juga menjadi tempat pencaharian makanan bagi berbagai jenis penyu, lumba-lumba, duyung, dan aneka jenis ikan lainnya. Luas tutupan terumbu karang di taman nasional ini mencapai 80,000 hektar dengan 238 jenis karang, berupa karang-karang berkelompok, karang tepi, karang penghalang, atol dan karang di perairan dangkal. Terumbu karang ini adalah rumah bagi 321 jenis ikan, 38 jenis gastrophoda dan 9 jenis lamun. Selain itu, 29 jenis bakau, 207 jenis moluska (12 diantaranya dilindungi) dan penyu juga dapat ditemukan disini. Mamalia seperti lumba-lumba, paus dan duyung juga sering terlihat.
  1. Potensi kawasan :
            Kawasan Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih terletak pada wilayah yang beriklim tropis yang lembab. Curah hujan rata-rata per tahun berkisar antara 1.295 - 3.703 mm, dengan suhu udara antara 21,2° - 33,1° C. Ketinggian tempat antara 0 - 2.252 m dpl. Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih mempunyai tipe ekosisitem pantai dan perairan laut yang terdiri atas terumbu karang (± 146 jenis), padang lamun dan perairan dangkal dengan kedalaman kurang dari 20 meter.
            Taman nasional ini mempunyai 14 jenis flora yang dilindungi yang sebagian besar didominasi oleh jenis pohon Kasuarina. Tercatat tidak kurang dari 183 jenis satwa dan 37 jenis di antaranya dilindungi, juga 36 jenis burung dan 18 jenis yang dilindungi antara lain Junasi mas (Chaloenas nicobaricca). Keanekaragaman jenis moluska sekitar 196 jenis. Beberapa jenis suku Tridacnidae seperti Kima raksasa, Kima kecil, Kima luang dan juga jenis suku Cymatida. Kawasan ini juga kaya akan jenis-jenis ikan yaitu tidak kurang dari 209 jenis dari 65 suku, dan beberapa penyu antara lain Penyu sisik, hijau, belimbing, sisik semu.
D.    Teluk yang Biru       
            Lumba-lumba mulut botol sering mengikuti kapal saat kita mengelilingi Pulau Iwari, Yoop dan Mioswar, sementara ikan-ikan terbang menjadi pemandangan yang menarik. Snorkeling dan menyelam di TN Teluk Cenderawasih wajib hukumnya bagi mereka yang menghargai kekayaan  biota perairan tropis. Terowongan sepanjang 10 meter membawa kita memasuki laguna Pulau Purup di sisi selatan Pulau Rumberpoon, kita bisa menikmati pemandangan terumbu karang dengan ikan badut yang lucu ditengah anemon. Hiu paus (Rhincodon typus ) berenang berputar-putar di Teluk Umar, Kabupaten Nabire. Kita bisa memegang makhluk luar biasa yang panjangnya 9 meter dan berat 4.5 ton. Sebagian kawasan ini juga di tutupi padang lamun sehingga mengundang duyung (Dugong dugon) datang kesitu. Bila beruntung, kita bisa melihat burung Cenderawasih yang berwarna-warni saat berkunjung ke desa.
                        Kima raksasa (Tridacna gigas), spesies yang mulai sulit ditemukan ditempat lain, bisa kita temukan dalam jumlah banyak di Napan Yaur. Teluk ini juga menjadi tempat bermain penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu tempayan (Caretta caretta) dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Menjelajahi keindahan alami Teluk Cenderawasih akan semakin lengkap dengan eksplorasi bangkai pesawat terbang masa Perang Dunia II di Selat Numamurang.
E.     Burung yang Berwarna-warni       
            TN Teluk Cenderawasih adalah surga dunia untuk burung-burung endemik dan migrasi. Aneka burung berbagai warna berloncatan dari pohon ke pohon. Burung Gosong (Megapodius sp) yang pemalu membangun sarang mereka seperti piramid dari pasir. Ukurannya bisa sebesar rumah manusia. Namun karena pemalu, jarang sekali orang bisa melihat mereka di habitatnya, antara lain di Cagar Alam Wondibuoy, Wasior. Sedikit ke arah timur dari Wasior, bisa kita temukan burung endemik Junai Emas Bird (Coelonas nicobarica). Walaupun mereka membangun sarang di pucuk-pucuk pohon, mereka mencari makan diatas tanah seperti seekor ayam. Satwa menarik lainnya adalah burung Kakatua Jambul (Cacatua galerita) dan Kuskus pohon (Phalanger sp) di Pulau Rumberpoon, serta burung Pelikan di Sobey. Sensus jenis-jenis spesies masih berlangsung sampai saat ini.
F.     Wisata Budaya         
            Selain untuk eksplorasi keindahan laut, TN Teluk Cenderawasih merupakan tempat yang ideal untuk ekspedisi ekowisata dan wisata kebudayaan masyarakat asli pesisir Papua. Sambil menyusuri jalan setapak ke sumber air panas di Yende, kita bisa mampir di sebuah gua bersejarah yang menyimpan kerangka leluhur orang etnis Wandau. Diperkirakan mereka adalah kelompok manusia pertama yang datang ke Kecamatan Mioswar, Wondama. Untuk mengenal lebih jauh G.L. Blink, seorang misionaris, yang bekerja keras membawa peradaban dan gereja, kita bisa mengunjungi gereja tua Isna Jedi yang dibangun tahun 1884. Di dalamnya terdapat Injil tertua di Papua. Pohon sagu banyak ditemukan di wilayah Teluk Wandamen. Masyarakat mengolah sagu menjadi makanan sehari-hari. Menarik sekali melihat proses pengolahan sagu, dan bisa juga mencoba rasanya sedikit.
1)      Iklim
          Suhu rata-rata dikawasan ini berkisar 21-28 0C, curah hujan antara 1.295 – 3.703 mm, dan musim kunjungan terbaik adalah antara bulan April – Agustus.
2)      Lain-lain
          Kawasan ini adalah daerah endemik malaria, pengunjung sebaiknya membekali diri dengan anti-malaria sebelum keberangkatan.
G.    Cara mencapai TN Teluk Cenderawasih  
            Cara termudah adalah berangkat dari Jakarta atau Makassar atau Denpasar dengan pesawat ke Manokwari. Kemudian, kapal (speed boat) sewaan atau kapal ferry reguler akan membawa kita ke Wasior, jantung Teluk Cenderawasih.
Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan perwakilan ekosistem terumbu karang, pantai, mangrove dan hutan tropika daratan pulau di Papua/Irian Jaya. Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan taman nasional perairan laut terluas di Indonesia, terdiri dari daratan dan pesisir pantai (0,9%), daratan pulau-pulau (3,8%), terumbu karang (5,5%), dan perairan lautan (89,8%).
                        Potensi karang Taman Nasional Teluk Cendrawasih tercatat 150 jenis dari 15 famili, dan tersebar di tepian 18 pulau besar dan kecil. Persentase penutupan karang hidup bervariasi antara 30,40% sampai dengan 65,64%. Umumnya, ekosistem terumbu karang terbagi menjadi dua zona yaitu zona rataan terumbu (reef flat) dan zona lereng terumbu (reef slope). Jenis-jenis karang yang dapat dilihat antara lain koloni karang biru (Heliopora coerulea), karang hitam (Antiphates sp.), famili Faviidae dan Pectiniidae, serta berbagai jenis karang lunak. Taman Nasional Teluk Cendrawasih terkenal kaya akan jenis ikan. Tercatat kurang lebih 209 jenis ikan penghuni kawasan ini diantaranya butterflyfish, angelfish, damselfish, parrotfish, rabbitfish, dan anemonefish.
                        Jenis moluska antara lain keong cowries (Cypraea spp.), keong strombidae (Lambis spp.), keong kerucut (Conus spp.), triton terompet (Charonia tritonis), dan kima raksasa (Tridacna gigas). Terdapat empat jenis penyu yang sering mendarat di taman nasional ini yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Duyung (Dugong dugon), paus biru (Balaenoptera musculus), ketam kelapa (Birgus latro), lumba-lumba, dan hiu sering terlihat di perairan Taman Nasional Teluk Cendrawasih.





Terdapat goa alam yang merupakan peninggalan zaman purba, sumber air panas yang mengandung belerang tanpa kadar garam di Pulau Misowaar, goa dalam air dengan kedalaman 100 feet di Tanjung Mangguar. Sejumlah peninggalan dari abad 18 masih bisa dijumpai pada beberapa tempat seperti di Wendesi, Wasior, dan Yomber. Umat Kristiani banyak yang berkunjung ke gereja di desa Yende (Pulau Roon), hanya untuk melihat kitab suci terbitan tahun 1898.





Sumber daya perikanan laut di Teluk Cenderawasih yang meliputi perairan Manokwari, Teluk Wondama, Nabire dan Yapen Waropen  merupakan salah satu sektor  andalan di wilayah utara Papua, memiliki ketersediaan data dan informasi  sumber daya ikan masih terbatas. Survai inventarisasi dan evaluasi pada tahun 2005 dan 2006, diperoleh sejumlah data dasar yang dapat dianggap sebagai ‘benchmark’ bagi keberhasilan pembangunan perikanan pada masa datang di daerah tersebut.
Kegiatan perikanan umumnya masih bersifat skala kecil menggunakan perahu tanpa mesin atau mesin tempel dengan alat tangkap sederhana seperti senapan karet, tombak, bubu, pancing ulur, rawai dan jaring insang. Penangkapan ikan dilakukan tidak jauh dari tempat tinggal nelayan dan di perairan karang sekitar  Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Dari analisis data catch dan effort dapat diperoleh gambaran trend hasil tangkapan per-satuan upaya yang merupakan salah satu indeks kelimpahan stok. Kecenderungan CPUE perikanan pelagis, demersal dan udang masih menunjukkan peningkatan selama periode 2000-2005.
Usaha ekstensifikasi ke luar dari wilayah penangkapan tradisional dapat diterapkan melalui pengorganisasian dan konsolidasi nelayan skala kecil agar dapat menangkap ikan di perairan yang lebih ke tengah dan diluar daerah konservasi Taman Nasional Teluk Cenderawasih.Untuk itu perlu program pengembangan dan pengelolaan sumber daya perikanan, sarana dan prasarana, teknologi penangkapan, pemasaran, kelembagaan, investasi serta partisipasi masyarakat. Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) di Kabupaten Biak Numfor, Papua, kini terancam rusak dan kondisinya semakin memprihatinkan. Pimpinan proyek TNTC, Robert Mandosir, kepada wartawan di Manokwari, Kamis (10/3), mengatakan ancaman muncul karena dalam 10 tahun terakhir sering terjadi kegiatan penangkapan ikan ilegal yang dilakukan nelayan setempat maupun pendatang.           

                        Para nelayan itu kebanyakan menangkap ikan dengan cara yang tidak ramah lingkungan, seperti menggunakan bahan peledak yang daya ledaknya cukup tinggi dan racun. "Akibatnya ekosistem laut dan ikan besar kecil ikut musnah, sedangkan populasi terumbu karang yang merupakan andalan panorama laut kawasan Teluk Cenderawasih terancam punah," kata Mandosir.           

                        Kekhawatiran itu makin besar karena masyarakat nelayan di sekitar kawasan TNTC kebanyakan masih hidup dengan tingkat ekonomi dan pengetahuan rendah, sehingga cukup sulit meyakinkan pentingnya pelestarian alam pada mereka. Menurut Mandosir, lima tahun lalu terumbu karang di TNTC dianggap sebagai yang terbaik kedua di dunia setelah Great Barrier Reef di Australia. Namun, belakangan ini peringkat itu turun menjadi kelima. "Ini karena tingkat perusakan lingkungan di TNTC makin tinggi. Kalau perusakan tidak dihentikan, sepuluh tahun ke depan wilayah ini akan rusak total," tegasnya. Adapun para nelayan makin sering menggunakan bom karena bahan tersebut mudah didapat. Menurut warga setempat, mereka bahkan menggunakan bom peninggalan perang dunia kedua yang banyak ditemukan di Biak, karena daerah itu dulu merupakan basis tentara Amerika dan Jepang.         
                        Alasan penggunaan bom adalah karena gampang dan hasilnya melimpah., Selain itu tidak ada aparat yang bertugas di wilayah tersebut sehingga pengeboman ikan itu berlangsung dengan bebas. Padahal, kawasan TNTC sejak dulu ditetapkan pemerintah pusat sebagai obyek wisata Bahari Nasional yang seharusnya tertutup dari kegiatan yang tidak sesuai dengan Undang-Undang Konservasi No.5 Tahun 1990            .

Taman Nasional Teluk Cenderawasih seluas 2.500 hektar yang terbentang antara Kabupaten Manokwari, Nabire, Biak Numfor, dan Yapen Waropen, kaya akan berbagai jenis biota laut. Taman ini memiliki berbagai jenis ikan. Tercatat kurang lebih 209 jenis ikan penghuni kawasan ini diantaranya butterflyfish, angelfish, damselfish, parrotfish, rabbitfish, dan anemonefish. Jenis moluska antara lain keong cowries (Cypraea spp.), keong strombidae (Lambis spp.), keong kerucut (Conus spp.), triton terompet (Charonia tritonis), dan kima raksasa (Tridacna gigas).         Selain itu ada empat jenis penyu yang sering mendarat di taman nasional ini yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Duyung (Dugong dugon), paus biru (Balaenoptera musculus), ketam kelapa (Birgus latro), serta berbagai jenis lumba-lumba, dan hiu sering pula terlihat di perairan Taman Nasional Teluk Cendrawasih.


A.    Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih memiliki beberapa fungsi, yaitu :
                         Melindungi jenis-jenis hewan laut dan darat yang hampir punah atau yang terancam. Memelihara habitat-habitat perairan, pantai dan pulau dalam kawasan ini. Melindungi kawasan-kawasan perairan laut yang memiliki nilai biologis yang tinggi atau keindahan yang menonjol. Menjaga pemanfaatan sumberdaya perairan laut dan pantai secara rasional erta berkelanjutan untuk kepentingan sekarang dan akan datang. Sebagai suatu obyek penelitian, pendidikan dan rekreasi. Melindungi fungsi daerah aliran sungai di daerah pantai daratan pulau se- hingga dapat mencegah erosi tanah yang dapat menimbulkan kerusakan ingkungan hidup di laut, terutama terumbu karang.

I.            Permasalahan Yang Terjadi Di Teluk Cinderawasi
Sebagai salah satu sumber penting pembiayaan pembangunan, sumber daya alam yang ada dewasa ini masih belum dirasakan manfaatnya secara nyata oleh sebagian besar masyarakat. Pengelolaan sumber daya alam tersebut belum memenuhi prinsip-prinsip keadilan dan keberlanjutan. Selain itu lingkungan hidup juga menerima beban pencemaran yang tinggi akibat pemanfaatan sumber daya alam dan aktivitas manusia lainnya yang tidak memperhatikan pelestarian lingkungan. Keterbatasan data dan informasi yang akurat berpengaruh pada kegiatan pengelolaan dan pengendalian sumber daya alam dan lingkungan hidup yang belum dapat berjalan dengan baik. Sementara itu, sistem pengelolaan informasi yang transparan juga belum melembaga dengan baik sehingga masyarakat belum mendapat akses terhadap data dan informasi secara memadai.  
Selanjutnya, permasalahan pokok lainnya adalah kurang efektifnya pengawasan dan pengendalian dalam pengelolaan sumber daya alam yang ada, yang menyebabkan kerusakan sumber daya alam. Kondisi ini ditandai dengan maraknya pengambilan terumbu karang dan pemboman ikan, perambahan hutan, kebakaran hutan dan lahan, serta pertambangan tanpa izin. Permasalahan lain adalah belum jelasnya pengaturan pemanfaatan sumber daya genetik (transgenik) yang mengancam keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia, serta permasalahan ketergantungan yang tinggi pada sumber daya fosil.
Para nelayan itu kebanyakan menangkap ikan dengan cara yang tidak ramah lingkungan, seperti menggunakan bahan peledak yang daya ledaknya cukup tinggi dan racun. "Akibatnya ekosistem laut dan ikan besar kecil ikut musnah, sedangkan populasi terumbu karang yang merupakan andalan panorama laut kawasan Teluk Cenderawasih terancam punah," kata Mandosir.
Kurangnya sosialisasi pemerintah terhadap penduduk disekitar teluk cenderawasi, yang kurangnya pengetahuan dan pentingnya pelestarian terhadap susmberhayati laut. Sering dilakukan penengkapan ikan dengan cara yang tidak ramah lingkungan seperti dengan menggunkan bom untuk menangkap ikan. Yang juga dapat merusak terumbu karang yang ada diperairan sekitar teluk cenderawasi.
II.            Solusi Permasalahan
Solusi permasalahan yang terjadi disekitar taman nasional diperairan teluk cenderawasi yaitu :
1.      Sering dilakukannya penyuluhan – penyuluhan yang diadakan oleh pemerintah setempat, terhadap pentingnya potensi – potensi dari sumber daya alam yang terkadung didalam sekitar perairan teluk cenderawasi.
2.      Harus adanya pengertian betapa pentingnya pemanfaatan sumberdaya perairan laut dan pantai secara rasional erta berkelanjutan untuk kepentingan sekarang dan akan datang. Sebagai suatu obyek penelitian, pendidikan dan rekreasi. Melindungi fungsi daerah aliran sungai di daerah pantai daratan pulau sehingga dapat mencegah erosi tanah yang dapat menimbulkan kerusakan ingkungan hidup di laut, terutama terumbu karang.
3.      Harus adanya badan pengawas terhadap kawasan taman nasional perairan disekitar teluk cenderawasi, untuk mengurangi pelanggaran – pelanggaran yang dilakukan oleh oknum – oknum yan g tidak bertanggungjawab.
4.      Harus adanya undang – undang atau peraturan – praturan setempat terhadap perlindungan dikawasan teluk cenderawasi.


Daftar Pustaka

Anonimous, 2005. Pengenalan jenis – jenis karang di kawasan konservasi laut. Edisi II                                         Direktorat  Konservasi dan Taman Nasional Laut, Direktorat jenderal                                            kelautan pesisir dan pulau – pulau kecil. Departemen Kelautan Dan                                                  Perikanan: Jakarta
DKP. 2007. Informasi Konservasi Kawasan Perairan di Indonesia. Departemen Kelautan dan      Perikanan. Jakarta.
Mulyana dan Agus Dermawan. 2008. Konservasi Kawasan Perairan Indonesia   Bagi Masa         Depan Dunia. DKP. Jakarta.










 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar