Mesteri Laut yang belum terkuat dan mengesankan

Minggu, 08 Mei 2011

PENGARUH PERENDAMAN RUMPUT LAUT COKLAT SEGAR DALAM BERBAGAI LARUTAN TERHADAP MUTU NATRIUM ALGINAT


Alginat adalah istilah untuk senyawa dalam bentuk garam dan turunan asam alginat. Asam alginat (yang tersusun dari polimer : asam d-mannuronat dan L-guluronat) digambarkan berupa karbohidrat yang membentuk koloid hidrofilik yang diekstraksi dengan garam alkali dari bermacam-macam jenis alga laut coklat. Alginat merupakan phycocolloid yang terdapat pada rumput laut dari kelas Phaeophycea (rumput laut coklat). Penghasil alginat adalah rumput laut coklat antara lain dari jenis Sargassum dan Turbinaria yang sampai sekarang dipanen dari alam. Pemanfaatan rumput laut coklat di Indonesia masih terbatas pada jenis Sargassum sp. saja yang dimanfaatkan secara komersial sebagai obat antikanker, sedangkan jenis Turbinaria belum dimanfaatkan secara komersial.
            Dalam dunia industri dan perdagangan, alginat dikenal dalam bentuk asam alginat atau garam alginat. Penggunaan alginat yang terbesar adalah pada industri tekstil, kemudian industri pangan, industri kertas, dan industri farmasi. Salah satu terobosan yang sangat tepat dalam hubungannya dengan upaya peningkatan pemanfaatan sumberdaya rumput laut adalah dengan cara mengolahnya menjadi produk natrium alginat. Natrium alginat biasanya diolah menggunakan bahan baku rumput laut coklat yang sudah dikeringkan. Supaya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pengeringan rumput laut coklat, maka dilakukan penelitian menggunakan bahan baku rumput laut coklat segar (setelah dipanen). Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan teknik produksi natrium alginat menggunakan rumput laut segar dan pengaruh perendaman rumput laut coklat segar dalam larutan basa serta mengamati mutu fisiko-kimia dari natrium alginat yang dihasilkan. Apabila pengolahan ini berhasil tidak menutup kemungkinan pabrik pengolahan Na-alginat ditempatkan dekat dengan bahan baku rumput laut coklat jenis Sargassum sp. Disamping itu dengan adanya kegiatan pengolahan rumput laut coklat ini dapat menambah pendapatan nelayan dan pengusaha yang bergerak dalam bidang ini.  Rumput laut coklat yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis Sargassum filipendula.

            Pada penelitian ini untuk sampel dari rumput laut yang berjenis Sargassum filipendula, diambil diwilayah perairan diBanten. Yang untuk pengolahan dari rumput laut itu sendiri yaitu dengan merendam atau mencuci terlebih dahulu rumput laut tersebut dengan memisahkan kotoran – kotoran, lumut, dan pasir yang melekat atau menempel pada rumput laut tersebut. Dengan perendaman dari rumput laut itu sendiri selama kurang lebih 30 menit.
            Dengan memperhatikan dari parameter kadar air yang meliputi viskositas dari dengan menggunakan alat Brookfield viscometer untuk perendaman dari rumput laut tersebut. Adapun dari tahap – tahap pengolahan dari rumput laut itu sendiri yaitu dimulai dari pencucian, perendaman, penirisan, ekstraksi, penyaringan, pemutihan, pengendapan asam alginate, pengendapan natrium alginate, pemurnian penyaringan barulah terbentuk natrium alginate.
            Untuk kadar air dari proses pengolahan Kadar air tertinggi diperoleh dari perlakuan tanpa
perendaman kadar air terendah diperoleh dari perlakuan perendaman rumput laut coklat dalam larutan KOH 0,1 % (SKO). Untuk mendapatkan kadar air Na-alginat yang rendah bisa diperoleh
dengan memperbaiki teknik ekstraksi terutama pada tahap pengeringan. Perbaikan teknik pengeringan dapat dilakukan dengan penggunaan oven yang telah diatur suhu dan lama pengeringannya.
            Pada viskositas dari suatu pengolahan rumput laut itu sendiri diperlukan karena penilaian terhadap Na-alginat ditentukan oleh tingginya viskositas tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman rumput laut dalam larutan KOH 0,1 % (SKO) mampu menghasilkan viskositas natrium alginate yang tinggi karena perendaman dalam larutan KOH 0,1 % mampu membuang sebagian besar protein (deproteinase), selulosa dan mineral yang terkandung dalam rumput laut. Untuk nilai kekentalan Na-alginat sangat tergantung pada umur panen rumput laut coklat, teknik ekstraksi (konsentrasi, suhu, pH, dan adanya kation logam polivalen) dan berat molekul rumput laut yang diekstrak. Jika digunakan rumput laut dengan panjang thallus yang kecil akan dihasilkan Na-alginat dengan viskositas yang rendah, sedangkan bila digunakan rumput laut dengan thallus yang panjang akan dihasilkan viskositas yang tinggi.
            Pada perendaman Perlakuan tanpa perendaman (SH) memiliki nilai rendemen tertinggi
karena di dalam natrium alginat yang dihasilkan masih banyak unsur-unsur lain seperti selulosa, protein dan mineral-mineral lainnya. Hal ini dapat diperjelas dengan kecilnya nilai viskositas yang dimiliki oleh perlakuan tersebut. Sedangkan natrium alginat yang dihasilkan dari perlakuan perendaman dalam larutan HCl, larutan KOH maupun keduanya memiliki nilai rendemen yang lebih sedikit. Hal ini karena bahan-bahan tersebut mampu mengurangi kandungan unsur lain yang terdapat di dalam rumput laut. Perendaman rumput laut coklat dalam larutan HCl mampu mengurangi kandungan mineral dan zat warna yang dimiliki oleh bahan tersebut. Rendemen Na-alginat yang diperoleh dari ekstraksi menggunakan rumput laut segar ternyata lebih besar dibandingkan dengan ekstraksi menggunakan rumput laut yang sudah dikeringkan. Rendemen Na-alginat yang diekstraksi dari rumput laut coklat yang sudah dikeringkan sebelum diekstraksi adalah sekitar 43,2 % Ditinjau dari segi penggunaan bahan baku terlihat penggunaan yang lebih banyak bila menggunakan rumput laut coklat segar, namun dalam prakteknya penggunaan bahan baku rumput laut coklat juga membutuhkan jumlah yang sama. Keuntungan dari penggunaan bahan baku rumput laut coklat segar adalah tidak lagi melakukan pengeringan, transportasi rumput laut coklat kering dan pengemasan serta penyimpanan, sehingga akan mengurangi biaya-biaya produksi.
            Untuk nilai dari kekentalan dari alginate itu sendiri dilihat dari segi umur panen rumput
laut coklat, teknik ekstraksi (konsentrasi, suhu, pH, dan adanya kation logam polivalen) dan berat molekul rumput laut yang diekstrak. Jika digunakan rumput laut dengan panjang thallus yang kecil akan dihasilkan Na-alginat dengan viskositas yang rendah, sedangkan bila digunakan rumput laut dengan thallus yang panjang akan dihasilkan viskositas yang tinggi. kandungan asam alginat dari batang alga spesies Laminaria pada tanaman yang telah tua relatif lebih stabil bila dibandingkan dengan yang masih muda. Kekentalan larutan alginat akan menurun akibat pemanasan yang terlalu lama. Pada pemanasan yang terlalu lama akan berakibat terjadinya degradasi molekul dan selanjutnya mengakibatkan penurunan kekentalan.
            Dalam melakukan suatu penelitian haruslah mempunyai perencanaan yang matang baik dari segi manapun, untuk menunjang dari proses penelitian itu berlangsung demi untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dan maksimal. Tidak terjadi dengan beberapa kali ulangan yang pada akhirnya belum juga mendapatkan hasil yang maksimal. Yang Ditinjau dari segi penggunaan bahan baku terlihat penggunaan yang lebih banyak bila menggunakan rumput laut coklat segar, namun dalam prakteknya penggunaan bahan baku rumput laut coklat juga membutuhkan jumlah yang sama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar