Mesteri Laut yang belum terkuat dan mengesankan

Minggu, 08 Mei 2011

Kerang Hijau


PENDAHULUAN

Kerang hijau termasuk binatang lunak (Mollusca) yang hidup ditaut, bercangkang dua (bivalve) berwama hijau. Insangnya berlapis-lapis (Lamelii branchia) dan berkaki kapak (Pelecypoda) serta memiliki benang byssus. Kerang hijau adalah plankton feeder, dapat berpindah-pindah tempat dengan menggunakan kaki dan benang byssus, hidup baik pada perairan dengan kisaran kedalaman 1 - 7 meter dan memiliki toleransi terhadap perubahan salinitas antara 27-35 per mil. Terdapat dalam jumlah yang berlimpah pada musimnya disepanjang pantai Indonesia yaitu pada bulan Maret sampai dengan bulan Juli. Hidup di daerah pasang surut dan sub tidal, menempel kuat dan bergerombol pada benda-benda keras dengan menggunakan benang byssusnya.
Pengertian kerang bersifat umum dan tidak memiliki arti secara biologi namun penggunaannya luas dan dipakai dalam kegiatan ekonomi. Dalam pengertian paling luas, kerang berarti semua moluska dengan sepasang cangkang. Dengan pengertian ini, lebih tepat orang menyebutnya kerang-kerangan dan sepadan dengan arti clam yang dipakai di Amerika. Kata kerang dapat pula berarti semua kerang-kerangan yang hidupnya menempel pada suatu obyek. Semua kerang-kerangan memiliki sepasang cangkang (disebut juga cangkok atau katup) yang biasanya simetri cermin yang terhubung dengan suatu ligamen (jaringan ikat). Pada kebanyakan kerang terdapat dua otot adduktor yang mengatur buka-tutupnya cangkang.
Kerang tidak memiliki kepala (juga otak) dan hanya simping yang memiliki mata. Organ yang dimiliki adalah ginjal, jantung, mulut, dan anus. Kerang dapat bergerak dengan "kaki" berupa semacam organ pipih yang dikeluarkan dari cangkang sewaktu-waktu atau dengan membuka-tutup cangkang secara mengejut. Sistem sirkulasinya terbuka, berarti tidak memiliki pembuluh darah. Pasokan oksigen berasal dari darah yang sangat cair yang kaya nutrisi dan oksigen yang menyelubungi organ-organnya. Makanan kerang adalah plankton, dengan cara menyaring. Kerang sendiri merupakan mangsa bagi cumi-cumi dan hiu. Semua kerang adalah jantan ketika muda. Beberapa akan menjadi betina seiring dengan kedewasaan.

ISI
Kerang hijau (Perna viridis) merupakan salah satu jenis kerang yang digemari masyarakat, memiliki nilai ekonomis dan kandungan gizi yang sangat baik untuk dikonsumsi, yaitu terdiri dari 40,8 % air, 21,9 % protein, 14,5 % lemak, 18,5 % karbohidrat dan 4,3 % abu sehingga menjadikan kerang hijau sebanding dengan daging sapi, telur maupun daging ayam, dari 100 gram daging kerang hijau ini mengandung 100 kalori.

Dalam reproduksinya, Hewan ini memiliki alat kelamin yang terpisah atau diocious, bersifat ovipora yaitu memiliki telur dan sperma yang berjumlah banyak dan mikroskopik. Induk kerang hijau yang telah matang kelamin mengeluarkan sperma dan sel telur kedalam air sehingga bercampur dan kemudian terjadi pembuahan, telur yang telah dibuahi tersebut setelah 24 jam kemudian menetas dan tumbuh berkembang menjadi larva kemudian menjadi spat yang masih bersifat planktonik hingga berumur 15-20 hari kemudian benih/ spat tersebut menempel pada substrat dan akan menjadi kerang hijau dewasa (Induk) setelah 5 - 6 bulan kemudian.

Budidaya kerang hijau banyak dilakukan masyarakat petambak sekarang ini, karena dalam membudidaya kerang hijau ini banyak manfaat dan keuntungan yang akan diperolah. Apabila ingin membudidaya kerang ini, maka ada beberapahal yang harus dipertimbangkan. Misalnya saja lokasi, dalam pemilihan lokasi yang menjadi kawasan pengembangan budidaya kerang hijau diharapkan memenuhi persyaratan :
  • Terlindung dari arus kencang
  • Terhindar dari fluktuasi kadar garam yang tinggi
  • Dasar perairan lumpur berpasir dan jauh dari pengaruh sungai besar
  • Banyak terdapat benih kerang hijau
  • Perairan subur / banyak mengandung unsur hara dan zat makanan
  • Bebas dari Pencemaran Limbah Industri yaitu logam berat seperti Tembaga (Cu), Merkuri (Hg), Seng (Zn), Cadmium (Cd) dan Timah Hitam (Pb) serta air raksa (Hg) dan bebas dari pencemaran limbah rumah tangga seperti limbah organik yang dapat menyebabkan kritis oksigen terlarut dan mengandung banyak bakteri pathogen seperti Salmonella, Echericia coli, Clostridium dan Shigella, kerang hijau yang tercemar bahan pencemar diatas dapat membahayakan manusia yang mengkonsumsinya.
  • Perairan yang baik untuk lokasi budidaya adalah parameter: Suhu 27oC - 37oC, pH 6-8, Kecerahan 3,5-4m Kedalaman 5 -20 m.Salinitas 27-35ppt.

Dalam pemilihan benih, pengumpulan benih/spat dapat menggunakan tali kolektor yang terbuat dari serabut kelapa, tali polyethylene, tali pintalan ijuk. Tali kolektor digantungkan pada perairan yang banyak terdapat benih kerang hijau. Secara alamiah benih-benih (spat) menempel pada tali kolektor kemudian dipindahkan ke wadah pembudidayaan. Lokasi yang tidak terdapat benih kerang hijau dilakukan transplantasi benih yang diambil dari daerah lain.

METODE BUDIDAYA

Budidaya kerang hijau dapat dilakukan dengan menggu-nakan 4 macam metoda yaitu: metoda tancap (post method), rakit apung (raft method), rakit tancap/rak (rack method) dan tali rentang (long line method). Sedangkan kondisi lingkungan perairan antara lain harus terhindar dari gangguan arus kencang, perubahan suhu yang mendadak, dan salinitasnya antara 27-35 permil. Selain itu harus terhindar dari fluktuasi kadar garam yang tinggi, jauh dari pengaruh sungai besar, bebas dari pencemaran limbah industri dan rumah tangga karena dapat membahayakan untuk dikonsumsi.    

            Kita akan ambil salah satu contoh teknik budidaya kerang hijau dengan menggunakan metode rakit apung. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuatnya antara lain: tali, rakit (terdiri dari tali, bambu, pelampung) dan jangkar. Rakit yang digunakan dalam metoda ini berfungsi untuk mengumpulkan spat (benih kerang). Dan sekaligus sebagai tempat pembesaran dengan menggunakan tali kolektor tempat menempelnya spat. Rakit terdiri dari tiga bagian utama, yaitu kerangka untuk menggantungkan tali dan unit pelampung. Guna menyangga rakit supaya tetap menga-pungserta jangkar atau pemberat sebagai penahan rakit.

            Ada dua macam bahan yang digunakan untuk membuat kerangka yaitu bambu dan kayu, namun pada umumnya yang digunakan adalah bahan dari bambu. Untuk rakit dengan ukuran 6m x 8m (48 m2) dibutuhkan bambu 18 batang. Dengan jumlah tali gantungan untuk 1 unit adalah 96 tali dengan panjang 3 meter per tali. Sedangkan untuk pelampung menggunakan drum plastik sebanyak 8 buah. Dan untuk pemberatnya menggunakan karung semen sebanyak 2 buah dengan bobot masing-masing pemberat 25 kg.       

            Perairan dengan dasar berlumpur lebih cocok menggunakan tongkat kayu. Sedangkan jenis penahan/ pemberat lainnya dapat digunakan pada dasar perairan berpasir.      

            Panen kerang hijau dapat dilakukan setelah kerang berumur 5 – 6 bulan atau telah berukuran 6 – 8 cm. Atau bisa juga disebut sebagai “ukuran tusuk”. Satu unit usaha dengan ukuran 6m x 8m dapat menghasilkan 2.880 kg kerang hijau.   

            Tali kolektor yang telah dipenuhi kerang hijau yang siap dipanen dibawa ke darat untuk dilakukan perontokan. Kerang dirontokkan dengan menggunakan alat lempeng besi yang tajam sehingga pada saat mengikis kerang, benang byssusnya tidak tercabut dari tubuhnya.

            Setelah kerang dibersihkan dari lumpur, pasir dan hewan-hewan yang menempel, kemudian kerang direndam di air yang tidak tercemar dalam kondisi terkontrol (metoda depurasi). Tahap selanjutnya adalah penanganan daging kerang hijau. Untuk skala kecil dapat dilakukan secara manual.

PANEN DAN PASCA PANEN
           
            Ukuran konsumsi kerang hijau pada umumnya adalah ukuran sedang atau ukuran tusuk sate yaitu 6 - 8 cm. Kerang hijau dapat dipanen setelah 5 - 6 bulan pemeliharaan. Kerang hijau yang bermutu baik adalah yang berdaging tebal dan berwarna krem. Pemanenan sebaiknya menggunakan pisau atau benda yang tajam untuk pengikisan kerang hijau sebab apabila pisau yang digunakan tumpul kerang hijau yang dipanen akan cepat mati karena luka pada benang byssus, sehingga akan berkurang nilai ekonomisnya.


Sanitasi
            Dengan sifat kekerangan sebagai plankton feeder atau filter feeder cenderung menimbun semua unsur yang tersaring di dalam ususnya, sehingga bakteri dan mikro organisme lain yang terdapat dalam perairan sekitamya terkumpul sampai mencapai tingkat yang dapat menimbulkan gangguan bagi kesehatan konsumen.Kontaminasi dapat terjadi saat penanganan pasca panen. Daging kerang yang terkena air kotor masuk melalui cangkang kerang yang terbuka. Air kotor yang berada di lokasi kerang akan masuk melalui cangkang kerang pada saat terbuka ke daging kerang sehingga dapat terkontaminasi. Oleh karena itu sanitasi terhadap kekerangan pada saat pasca panen harus diperhatikan.

Depurasi
            Depurasi adalah suatu proses penanganan pasca panen yang bertujuan untuk membersihkan kerang-kerangan dari bahan-bahan pencemar dan beracun yang terdapat di dalam daging dan cangkang kerang. Cara sederhana dengan merendam kerang didalam air bersih dalam kondisi terkontrol, atau dapat juga dengan cara mengalirkan air dengan kondisi kerang terendam didalam air.

Bentuk Produk Olahan Kerang
            Penanganan skala kecil dapat dilakukan secara manual, sedangkan untuk skala besar diperlukan mekanisasi penanganan pasca panen seperti alat pengelompok, alat pembersih insang.











Banyak Daerah Sukses dari Kerang Hijau           

            Salah satu daerah yang berhasil mengembangkan budidaya ini adalah Banten dan Cirebon. Rata-rata para nelayan di Cirebon menghasilkan kerang hijau dari rakit apung dan rakit tancap sekitar 6 ton per unit dengan nilai sekitar Rp 4,2 juta. Kerang hijau yang baru dipanen dihargai Rp 700 per kg. Jika kerang sudah dibersihkan dan dilepas dari kulitnya bisa dijual Rp 1.200 per kg.      

            Untuk wilayah Cirebon saja diperkirakan bisa memproduksi kerang hijau sebanyak 10 ribu ton per tahun. Sedangkan Banten baru sekitar 3 ribu ton pertahun. Jika melihat kebutuhan untuk sebagian besar hotel dan restoran di Jakarta saja, yang setiap harinya membutuhkan setidaknya mencapai 100 ton kerang hijau. Tak heran bila peluang budidaya komoditas perikanan yang satu ini masih sangat terbuka luas.      

            Tak hanya itu, budidaya kerang hijau ini juga mempunyai hasil ikutan yang lain. Misalnya, cangkang yang memiliki warna cukup indah itu dapat digunakan sebagai bahan hiasan dan kerajinan rumah tangga. Selain itu dapat pula diolah menjadi grit sebagai bahan pakan ternak unggas.

            Banyaknya permintaan ekspor akan komoditas ini dikarenakan kerang hijau memiliki nilai gizi tinggi dibandingkan dengan sumber makanan lainnya seperti daging sapi, kambing, ayam dan telur. Dagingnya mengandung beberapa mineral seperti kalsium, fosfor, besi, yodium, thiamin, riboflavin, niasin, asam panthothenat, pyridoxine, biotin, B-12 dan asam folic.       

            Komposisi kerang hijau terdiri dari: 40,8% air; 21,9% protein; 14,5% lemak; 18,5% karbohidrat; dan 4,3 % abu. Meskipun daging kerang hijau hanya sekitar 30% dari bobot keseluruhan (daging dan cangkang), tetapi dalam 100 gr daging kerang hijau mengandung 100 kalori yang tentunya sangat bermanfaat untuk ketahanan tubuh manusia.         

            Selain itu, pada daging kerang hijau juga terdapat zat yang dapat membantu meningkatkan kerja organ hati dalam tubuh manusia. Sedangkan ekstrak daging kerang hijau bermanfaat sebagai anti rematik dan arhtritis (penyakit radang sendi). Selain untuk konsumsi manusia daging kerang hijau digunakan pula sebagai alternatif pengganti tepung ikan.

            Kerang hijau sendiri termasuk ke dalam golongan binatang lunak (molusca). Bercangkang hijau yang hidup di laut dan menempel pada substrat seperti karang, tiang bagan, tiang dermaga, dan lain-lain. Kerang hijau dapat hidup pada perairan dengan kadar garam 27-35 0/00 pada kedalaman 1-7 meter.  

            Seekor kerang hijau dewasa mampu menghasilkan telur sebanyak 12.000.000 butir yang dilepaskan ke air. Setelah dibuahi, telur-telur tersebut akan menetas menjadi larva dan hidup di perairan sebagai plankton. Setelah lebih kurang dua minggu, larva tersebut akan mencari substrat untuk menempel dan tumbuh menjadi kerang dewasa.  

            Benih kerang hijau dapat diperoleh dengan kolektor, yaitu suatu benda padat yang berupa tali plastik (PE), jaring monofilamen, atau incin yang dibenamkan ke dalam air. Apabila di suatu perairan diperkirakan cocok untuk budidaya kerang hijau tetapi tidak ada benihnya, maka hal tersebut dapat diatasi dengan jalan transplantasi atau melakukan introduksi benih kerang hijau ke perairan tersebut.

            Di Indonesia kerang hijau memijah sepanjang tahun, namun untuk bisa mendapatkan benih yang banyak biasanya bisa didapat pada bulan Maret sampai dengan bulan Juli. Kecepatan pertumbuhan rata-rata 0,7-1,0 cm per bulan, dan setelah berumur 6-7 bulan kerang hijau dapat dipanen. Secara ekonomi, budidaya kerang hijau dinilai sangat menguntungkan. Bagaimana tidak, satu bagan tancap yang berukuran 25 x 10 m2 mempunyai potensi produksi sekitar 20 – 28 ton kerang hijau dengan nilai jual bisa mencapai Rp 14.000.000 (jika asumsi harga per kilo Rp 500).

            Berdasarkan perhitungan untuk memulai usaha budidaya diperlukan modal awal sekitar Rp 5.000.000. Lokasi budidaya kerang hijau disarankan di perairan yang relatif tenang (tidak terbuka), sehingga dapat menghindari ombak besar yang dapat merusak sarana produksi.

PENGARUH PERENDAMAN RUMPUT LAUT COKLAT SEGAR DALAM BERBAGAI LARUTAN TERHADAP MUTU NATRIUM ALGINAT


Alginat adalah istilah untuk senyawa dalam bentuk garam dan turunan asam alginat. Asam alginat (yang tersusun dari polimer : asam d-mannuronat dan L-guluronat) digambarkan berupa karbohidrat yang membentuk koloid hidrofilik yang diekstraksi dengan garam alkali dari bermacam-macam jenis alga laut coklat. Alginat merupakan phycocolloid yang terdapat pada rumput laut dari kelas Phaeophycea (rumput laut coklat). Penghasil alginat adalah rumput laut coklat antara lain dari jenis Sargassum dan Turbinaria yang sampai sekarang dipanen dari alam. Pemanfaatan rumput laut coklat di Indonesia masih terbatas pada jenis Sargassum sp. saja yang dimanfaatkan secara komersial sebagai obat antikanker, sedangkan jenis Turbinaria belum dimanfaatkan secara komersial.
            Dalam dunia industri dan perdagangan, alginat dikenal dalam bentuk asam alginat atau garam alginat. Penggunaan alginat yang terbesar adalah pada industri tekstil, kemudian industri pangan, industri kertas, dan industri farmasi. Salah satu terobosan yang sangat tepat dalam hubungannya dengan upaya peningkatan pemanfaatan sumberdaya rumput laut adalah dengan cara mengolahnya menjadi produk natrium alginat. Natrium alginat biasanya diolah menggunakan bahan baku rumput laut coklat yang sudah dikeringkan. Supaya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pengeringan rumput laut coklat, maka dilakukan penelitian menggunakan bahan baku rumput laut coklat segar (setelah dipanen). Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan teknik produksi natrium alginat menggunakan rumput laut segar dan pengaruh perendaman rumput laut coklat segar dalam larutan basa serta mengamati mutu fisiko-kimia dari natrium alginat yang dihasilkan. Apabila pengolahan ini berhasil tidak menutup kemungkinan pabrik pengolahan Na-alginat ditempatkan dekat dengan bahan baku rumput laut coklat jenis Sargassum sp. Disamping itu dengan adanya kegiatan pengolahan rumput laut coklat ini dapat menambah pendapatan nelayan dan pengusaha yang bergerak dalam bidang ini.  Rumput laut coklat yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis Sargassum filipendula.

            Pada penelitian ini untuk sampel dari rumput laut yang berjenis Sargassum filipendula, diambil diwilayah perairan diBanten. Yang untuk pengolahan dari rumput laut itu sendiri yaitu dengan merendam atau mencuci terlebih dahulu rumput laut tersebut dengan memisahkan kotoran – kotoran, lumut, dan pasir yang melekat atau menempel pada rumput laut tersebut. Dengan perendaman dari rumput laut itu sendiri selama kurang lebih 30 menit.
            Dengan memperhatikan dari parameter kadar air yang meliputi viskositas dari dengan menggunakan alat Brookfield viscometer untuk perendaman dari rumput laut tersebut. Adapun dari tahap – tahap pengolahan dari rumput laut itu sendiri yaitu dimulai dari pencucian, perendaman, penirisan, ekstraksi, penyaringan, pemutihan, pengendapan asam alginate, pengendapan natrium alginate, pemurnian penyaringan barulah terbentuk natrium alginate.
            Untuk kadar air dari proses pengolahan Kadar air tertinggi diperoleh dari perlakuan tanpa
perendaman kadar air terendah diperoleh dari perlakuan perendaman rumput laut coklat dalam larutan KOH 0,1 % (SKO). Untuk mendapatkan kadar air Na-alginat yang rendah bisa diperoleh
dengan memperbaiki teknik ekstraksi terutama pada tahap pengeringan. Perbaikan teknik pengeringan dapat dilakukan dengan penggunaan oven yang telah diatur suhu dan lama pengeringannya.
            Pada viskositas dari suatu pengolahan rumput laut itu sendiri diperlukan karena penilaian terhadap Na-alginat ditentukan oleh tingginya viskositas tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman rumput laut dalam larutan KOH 0,1 % (SKO) mampu menghasilkan viskositas natrium alginate yang tinggi karena perendaman dalam larutan KOH 0,1 % mampu membuang sebagian besar protein (deproteinase), selulosa dan mineral yang terkandung dalam rumput laut. Untuk nilai kekentalan Na-alginat sangat tergantung pada umur panen rumput laut coklat, teknik ekstraksi (konsentrasi, suhu, pH, dan adanya kation logam polivalen) dan berat molekul rumput laut yang diekstrak. Jika digunakan rumput laut dengan panjang thallus yang kecil akan dihasilkan Na-alginat dengan viskositas yang rendah, sedangkan bila digunakan rumput laut dengan thallus yang panjang akan dihasilkan viskositas yang tinggi.
            Pada perendaman Perlakuan tanpa perendaman (SH) memiliki nilai rendemen tertinggi
karena di dalam natrium alginat yang dihasilkan masih banyak unsur-unsur lain seperti selulosa, protein dan mineral-mineral lainnya. Hal ini dapat diperjelas dengan kecilnya nilai viskositas yang dimiliki oleh perlakuan tersebut. Sedangkan natrium alginat yang dihasilkan dari perlakuan perendaman dalam larutan HCl, larutan KOH maupun keduanya memiliki nilai rendemen yang lebih sedikit. Hal ini karena bahan-bahan tersebut mampu mengurangi kandungan unsur lain yang terdapat di dalam rumput laut. Perendaman rumput laut coklat dalam larutan HCl mampu mengurangi kandungan mineral dan zat warna yang dimiliki oleh bahan tersebut. Rendemen Na-alginat yang diperoleh dari ekstraksi menggunakan rumput laut segar ternyata lebih besar dibandingkan dengan ekstraksi menggunakan rumput laut yang sudah dikeringkan. Rendemen Na-alginat yang diekstraksi dari rumput laut coklat yang sudah dikeringkan sebelum diekstraksi adalah sekitar 43,2 % Ditinjau dari segi penggunaan bahan baku terlihat penggunaan yang lebih banyak bila menggunakan rumput laut coklat segar, namun dalam prakteknya penggunaan bahan baku rumput laut coklat juga membutuhkan jumlah yang sama. Keuntungan dari penggunaan bahan baku rumput laut coklat segar adalah tidak lagi melakukan pengeringan, transportasi rumput laut coklat kering dan pengemasan serta penyimpanan, sehingga akan mengurangi biaya-biaya produksi.
            Untuk nilai dari kekentalan dari alginate itu sendiri dilihat dari segi umur panen rumput
laut coklat, teknik ekstraksi (konsentrasi, suhu, pH, dan adanya kation logam polivalen) dan berat molekul rumput laut yang diekstrak. Jika digunakan rumput laut dengan panjang thallus yang kecil akan dihasilkan Na-alginat dengan viskositas yang rendah, sedangkan bila digunakan rumput laut dengan thallus yang panjang akan dihasilkan viskositas yang tinggi. kandungan asam alginat dari batang alga spesies Laminaria pada tanaman yang telah tua relatif lebih stabil bila dibandingkan dengan yang masih muda. Kekentalan larutan alginat akan menurun akibat pemanasan yang terlalu lama. Pada pemanasan yang terlalu lama akan berakibat terjadinya degradasi molekul dan selanjutnya mengakibatkan penurunan kekentalan.
            Dalam melakukan suatu penelitian haruslah mempunyai perencanaan yang matang baik dari segi manapun, untuk menunjang dari proses penelitian itu berlangsung demi untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dan maksimal. Tidak terjadi dengan beberapa kali ulangan yang pada akhirnya belum juga mendapatkan hasil yang maksimal. Yang Ditinjau dari segi penggunaan bahan baku terlihat penggunaan yang lebih banyak bila menggunakan rumput laut coklat segar, namun dalam prakteknya penggunaan bahan baku rumput laut coklat juga membutuhkan jumlah yang sama.

Sabtu, 23 April 2011

MENGENAL ALAT PENANGKAP IKAN


1. Pukat Udang (Shrimp Trawl)





Pukat udang adalah jenis jaring berbentuk kantong dengan sasaran tangkapannya udang. Jaring dilengkapi sepasang (2 buah) papan pembuka mulut jaring (otter board) dan Turtle Excluder Device/TED, tujuan utamanya untuk menangkap udang dan ikan dasar (demersal), yang dalam pengoperasiannya menyapu dasar perairan dan hanya boleh ditarik oleh satu kapal motor. 
2. Pukat Ikan (Fish Net)





Pukat Ikan atau Fish Net adalah jenis penangkap ikan berbentuk kantong bersayap yang dalam operasinya dilengkapi (2 buah) papan pembuka mulut (otter board), tujuan utamanya untuk menangkap ikan perairan pertengahan (mid water) dan ikan perairan dasar (demersal), yang dalam pengoperasiannya ditarik melayang di atas dasar hanya oleh 1 (satu) buah kapal bermotor.
3. Pukat Kantong (Seine Net)





Pukat Kantong adalah alat penangkapan ikan berbentuk kantong yg terbuat dari jaring & terdiri dari 2 (dua) bagian sayap, badan dan kantong jaring. Bagian sayap pukat kantong (seine net) lebih panjang dari pada bagian sayap pukat tarik (trawl). Alat tangkap ini digunakan untuk menangkap berbagai jenis ikan pelagis, dan demersal. Pukat Kantong terdiri dari Payang, Dogol dan Pukat Pantai.
4. Pukat Cincin (Purse Seine)





Pukat cincin atau jaring lingkar (purse seine) adalah jenis jaring penangkap ikan berbentuk empat persegi panjang atau trapesium, dilengkapi dengan tali kolor yang dilewatkan melalui cincin yang diikatkan pada bagian bawah jaring (tali ris bawah), sehingga dengan menarik tali kolor bagian bawah jaring dapat dikuncupkan sehingga gerombolan ikan terkurung di dalam jaring. 
5. ]aring Insang (Gillnet)





Jaring insang adalah alat penangkapan ikan berbentuk lembaran jaring empat persegi panjang, yang mempunyai ukuran mata jaring merata. Lembaran jaring dilengkapi dengan sejumlah pelampung pada tali ris atas dan sejumlah pemberat pada tali ris bawah. Ada beberapa gill net yang mempunyai penguat bawah (srampat/selvedge) terbuat dari saran sebagai pengganti pemberat. Tinggi jaring insang permukaan 5-15 meter & bentuk gill net empat persegi panjang atau trapesium terbalik, tinggi jaring insang pertengahan 5-10 meter dan bentuk gill net empat persegi panjang serta tinggi jaring insang dasar 1-3 meter dan bentuk gill net empat persegi panjang atau trapesium. Bentuk gill net tergantung dari panjang tali ris atas dan bawah. 
6. Jaring Angkat (Lift Net)





Jaring angkat adalah alat penangkapan ikan berbentuk lembaran jaring persegi panjang atau bujur sangkar yang direntangkn atau dibentangkan dengan menggunakn kerangka dari batang kayu atau bambu (bingkai kantong jaring) sehingga jaring angkat membentuk kantong. 
7. Pancing (Hook and Lines)





Pancing adalah alat penangkapan ikan yang terdiri dari sejumlah utas tali dan sejumlah pancing. Setiap pancing menggunakan umpan atau tanpa umpan, baik umpan alami ataupun umpan buatan. Alat penangkapan ikan yang termasuk dalam klasifikasi pancing, yaitu rawai (long line) dan pancing.
8. Perangkap (Traps)





Perangkap adalah alat penangkapan ikan berbagai bentuk yang terbuat dari jaring, bambu, kayu dan besi, yangg dipasang secara tetap di dasar perairan atau secara portable (dapat dipindahkan) selama jangka waktu tertentu. Umumnya ikan demersal terperangkap atau tertangkap secara alami tanpa cara penangkapan khusus.

  9. Muroami




Muroami adalah alat penangkapan ikan berbentuk kantong yg terbuat dari jaring dan terdiri dari 2 (dua) bagian sayap yg panjang, badan dan kantong jaring (cod end). Pemasangannya dng cara menenggelamkan muroami yang dipasang menetap menggunakan jangkar. Pada setiap ujung bagian sayap serta di sisi atas kedua bagian sayap dan mulut jaring dipasang pelampung bertali panjang. Untuk menarik jaring ke arah belakang, menggunakan sejumlah perahu/kapal yg diikatkan pd bagian badan dajn kantong jaring. Muroami dipasang di daerah perairan karang untuk menangkap ikan-ikan karang.

 

10. Jermal




Jermal adalah perangkap pasang surut (tidal trap) yang merupakan ciri khas alat penangkapan yang terdapat di perairan Sumatera bagian Utara. Pada prinsipnya, jermal ini terdiri dari jajaran tiang-tiang pancang yang merupakan sayap, jaring jermal dan rumah jermal. Jajaran tiang pancang terbuat dari pohon nibung (Oncosperma spp), kayu pohon bakau (Rizhopora spp), kayu tengar (Ceriop spp) berukuran panjang antara 12–15cm, garis tengah 10-20cm. Jaring jermal terdiri dari tiga bagian : mulut, badan, dan kantong. Jaring jermal ini bentuknya bisa menyerupai tikar (jermal biasa), berbentuk kantong (bubu jermal atau jaring kantong jermal), berbentuk gabungan antara tikar dan kantong (kilung bagan, ambai jermal), rumah jermal, merupakan plataran (platform) tempat kegiatan perikanan jermal dilakukan. Jarak pemasangan jermal biasanya sekitar antara 3-6mil dari pantai. Untuk pengoperasional jermal tidak diperlukan perahu atau kapal. Perahu atau kapal hanya digunakan sebagai alat transportasi, untuk mengambil hasil tangkapan.
Ø  Teknik atau Metode Penangkapan Ikan
Teknologi yang digunakan dalam pemanfaatan sumber daya tuna disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku ikan sasaran. Tuna merupakan ikan perenang cepat yang bergerombol. Oleh karena itu, alat penangkap ikan yang digunakan haruslah yang sesuai dengan perilaku ikan tersebut. Ada lima macam alat penangkap tuna, yaitu rawai tuna, huhate, handline. pukat cincin, dan jarring insane



 
1. Rawai (longllne)





Rawai tuna atau tuna longline adalah alat penangkap tuna yang paling efektif. Rawai tuna merupakan rangkaian sejumlah pancing yang dioperasikan sekaligus. Satu tuna longliner biasanya mengoperasikan 1.000 - 2.000 mata pancing untuk sekali turun.
Rawai tuna umumnya dioperasikan di laut lepas atau mencapai perairan samudera. Alat tangkap ini bersifat pasif, menanti umpan dimakan oleh ikan sasaran. Setelah pancing diturunkan ke perairan, lalu mesin kapal dimatikan. sehingga kapal dan alat tangkap akan hanyut mengikuti arah arus atau sering disebut drifting. Drifting berlangsung selama kurang lebih empat jam. Selanjutnya mata pancing diangkat kembali ke atas kapal.
Umpan longline harus bersifat atraktif. misalnya sisik ikan mengkilat, tahan di dalam air, dan tulang punggung kuat. Umpan dalam pengoperasian alat tangkap ini berfungsi sebagai alat pemikat ikan. Jenis umpan yang digunakan umumnya ikan pelagis kecil, seperti lemuru (Sardinella sp.), layang (Decopterus sp.), kembung (Rastrelliger sp.), dan bandeng (Chanos chanos).

2. Huhate (pole and line)


Huhate atau pole and line khusus dipakai untuk menangkap cakalang. Tak heran jika alat ini sering disebut “pancing cakalang”. Huhate dioperasikan sepanjang siang hari pada saat terdapat gerombolan ikan di sekitar kapal. Alat tangkap ini bersifat aktif. Kapal akan mengejar gerombolan ikan. Setelah gerombolan ikan berada di sekitar kapal, lalu diadakan pemancingan.
Terdapat beberapa keunikan dari alat tangkap huhate. Bentuk mata pancing huhate tidak berkait seperti lazimnya mata pancing. Mata pancing huhate ditutupi bulu-bulu ayam atau potongan rafia yang halus agar tidak tampak oleh ikan. Bagian haluan kapal huhate mempunyai konstruksi khusus, dimodifikasi menjadi lebih panjang, sehingga dapat dijadikan tempat duduk oleh pemancing. Kapal huhate umumnya berukuran kecil. Di dinding bagian lambung kapal, beberapa cm di bawah dek, terdapat sprayer dan di dek terdapat beberapa tempat ikan umpan hidup. Sprayer adalah alat penyemprot air. Pemancingan dilakukan serempak oleh seluruh pemancing. Pemancing duduk di sekeliling kapal dengan pembagian kelompok berdasarkan keterampilan memancing.
Pemancing I adalah pemancing paling unggul dengan kecepatan mengangkat mata pancing berikan sebesar 50-60 ekor per menit. Pemaneing I diberi posisi di bagian haluan kapal, dimaksudkan agar lebih banyak ikan tertangkap.
Pemancing II diberi posisi di bagian lambung kiri dan kanan kapal. Sedangkan pemancing III berposisi di bagian buritan, umumnya adalah orang-orang yang baru belajar memancing dan pemancing berusia tua yang tenaganya sudah mulai berkurang atau sudah lamban. Hal yang perlu diperhatikan adalah pada saat pemancingan dilakukan jangan ada ikan yang lolos atau jatuh kembali ke perairan, karena dapat menyebabkan gerombolan ikan menjauh dari sekitar kapal.
Umpan yang digunakan adalah umpan hidup, dimaksudkan agar setelah ikan umpan dilempar ke perairan akan berusaha kembali naik ke permukaan air. Hal ini akan mengundang cakalang untuk mengikuti naik ke dekat permukaan. Selanjutnya dilakukan penyemprotan air melalui sprayer. Penyemprotan air dimaksudkan untuk mengaburkan pandangan ikan, sehingga tidak dapat membedakan antara ikan umpan sebagai makanan atau mata pancing yang sedang dioperasikan. Umpan hidup yang digunakan biasanya adalah teri (Stolephorus spp.).
3. Pancing ulur (handline)
Handline atau pancing ulur dioperasikan pada siang hari. Konstruksi pancing ulur sangat sederhana. Pada satu tali pancing utama dirangkaikan 2-10 mata pancing secara vertikal. Pengoperasian alat ini dibantu menggunakan rumpon sebagai alat pengumpul ikan. Pada saat pemancingan, satu rumpon dikelilingi oleh lima unit kapal, masing-masing kapal berisi 3-5 orang pemancing. Umpan yang digunakan adalah ikan segar yang dipotong-potong. Hasil tangkapan utama pancing ulur adalah tuna (Thunnus spp.).       
4. Pukat cincin (purse seine)
Pukat cincin atau purse seine adalah sejenis jaring yang di bagian bawahnya dipasang sejumlah cincin atau gelang besi. Dewasa ini tidak terlalu banyak dilakukan penangkapan tuna menggunakan pukat cincin, kalau pun ada hanya berskala kecil.
Pukat cincin dioperasikan dengan cara melingkarkan jaring terhadap gerombolan ikan. Pelingkaran dilakukan dengan cepat, kemudian secepatnya menarik purse line di antara cincin-cincin yang ada, sehingga jaring akan membentuk seperti mangkuk. Kecepatan tinggi diperlukan agar ikan tidak dapat meloloskan diri. Setelah ikan berada di dalam mangkuk jaring, lalu dilakukan pengambilan hasil tangkapan menggunakan serok atau penciduk.
Pukat cincin dapat dioperasikan siang atau malam hari. Pengoperasian pada siang hari sering menggunakan rumpon atau payaos sebagai alat bantu pengumpul ikan. Sedangkan alat bantu pengumpul yang sering digunakan di malam hari adalah lampu, umumnya Lampu petromaks.
Gafa et al. (1987) mengemukakan bahwa payaos selain berfungsi sebagai alat pengumpul ikan juga berfungsi sebagai penghambat pergerakan atau ruaya ikan, sehingga ikan akan berada lebih lama di sekitar payaos. Uktolseja (1987) menyatakan bahwa payaos dapat menjaga atau membantu cakalang tetap berada d lokasi pemasangannya selama 340 hari.


 

5. Jaring insang (gillnet)


Jaring insang merupakan jaring berben tuk empat persegi panjang dengan ukuran mata yang sama di sepanjang jaring. Dinamakan jaring insang karena berdasarkar cara tertangkapnya, ikan terjerat di bagian insangnya pada mata jaring. Ukuran ikan yang tertangkap relatif seragam.
Pengoperasian jaring insang dilakuka secara pasif. Setelah diturunkan ke perairan, kapal dan alat dibiarkan drifting, umumnya berlangsung selama 2-3 jam. Selanjutnya dilakukan pengangkat jaring sambil melepaskan ikan hasil tangkapan ke palka.
6. Jermal
            Prinsip dasar dari jermal seperti yang telah diuaraikan di depan adalah mengusahakan ikan untuk memasuki jaring tersebut, setelah dihadang seraya diajak memasuki bubu jermal, lalu setiap hari pada waktu-waktu tertentu jaring itu diangkat ataupun setelah dilihat dan diperhitungkan bahwa ikan-ikan telah memasuki jaring, lalu jaring diangkat. Tata cara penangkapan ikan seperti tersebut di atas adalah merupakan prinsip dari set net yaitu semua alat tangkap berupa perangkap (sero, jermal, ambai jermal).
Alat tangkap perangkap jermal terhadap ikan yang menjadi tujuan penangkapan sifatnya pasif. Struktur dari jaring besar jika dipasang untuk sesuatu musim, maka sukar untuk memindah-mindahkannya, maka faktor penentu tempat sangatlah penting.
Cara pengoperasian penangkapan ikan yang dilakukan dengan jermal adalah dengan menekan galah yang terdapat pada kanan atau kiri mulut jaring ke bawah sampai di dasar sehingga mulut kantong jaring terbuka secara sempurna. Kemudian tunggu antara 20-30 menit sementara menunggu diangkat. Pengambilan hasil tangkapan dilakukan dengan menutup mulut jaring dengan cara mengangkat bibir bawah ke atas sehingga menyatu dengan bibir atas, kemudian diikuti mengangkat bagian-bagian tengah kantong melalui katrol-katrol. Pengambilan hasil dilakukan dengan membuka ikatan tali pada ujung belakang kantong.
Seperti yang sudah dijelaskan di atas behwa yang menjadi tempat penangkapan atau fishing ground ialah daerah-daerah Teluk, daerah di mana ikan-ikan dalam costal migrationnya melalui daerah tersebut. Karena jaring jermal ini terpasang lama (semusim, beberapa bulan) di suatu fishing ground , maka perlulah dicari tempat yang sesuai untuk hal-hal pemasangan dan pengangkatan jaring, management dan lain-lain. Tempat-tempat seperti yang jauh dari pangkalan, sukar ditempuh, di daerah tebing yang terjal, tentulah dalam hal pemasangan jaring jermal juga dalam hal-hal lain akan mengalami banyak kesukaran. Oleh karena itu penentuan tempat merupakan salah satu faktor terpenting dalam mencapai keberhasilan penangkapan dengan menggunakan jaring tersebut.
Kondisi perairan yang menguntungkan adalah adanya perbedaan pasang dan surut yang tingginya mencapai 4-6 meter. Serta topografi dasar perairan harus terdiri dari lumpur, lumpur pasir, tidak keras sehingga memudahkan pemasangan jaring tersebut. Selain itu juga ikan-ikan atau udang yang tertangkap dengan perangkap pasang surut (Tidal trap) itu disebabkan terbawa kuatnya arus pasang surut kemudian masuk ke dalam kantong jaring yang telah dipasang (diset) lebih dahulu.

Daftar Pustaka
Anonimous.1976.FISHERMAN’S MANUAL.World Fishing. England.
Anonimous.1975.FAO CATALOGUE OF SMAIL SCALE FISHING GEAR.FAO of UN.
Ayodya.1975.FISHING METHODS DIKTAT KULIAH ILMU TEHNIK PENANGKAPAN IKAN. Bagian Penangkapan. Fakultas Perikanan IPB. Bogor.
Subani dan Barus.1989. ALAT PENANGKAPAN IKAN DAN UDANG LAUT DI INDONESIA. Balai Perikanan Laut. Jakarta.